• Selamat datang di laman

    Balai Guru Penggerak
    Provinsi Kalimantan Tengah

    Mari bersama kita tingkatkan kualitas mutu guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah di Kalimantan Tengah

    Selengkapnya
  • Berita

    Kemendikbudristek Kupas Tuntas Program PPG Prajabatan di Medan

    Medan, 22 Februari 2024 - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) hadir di Universitas Negeri Medan (UNIMED) untuk memberikan penjelasan terkait arah kebijakan profesi guru kepada para mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan. Acara ini sekaligus mengupas tantangan dan kesempatan untuk mengabdi menjadi guru profesional.Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani, dalam sambutannya menyampaikan visi Ditjen GTK adalah menjadikan profesi guru yang bermartabat, mulia, dan membanggakan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan visi tersebut, Ditjen GTK berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan dan status guru secara pasti. “Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui pemenuhan guru lewat seleksi ASN PPPK dan rekrutmen Pendidikan Profesi Guru,” ujarnya pada Senin (21/2) di Medan.Dirjen GTK juga menambahkan bahwa proses rekrutmen guru baru saat ini hanya melalui PPG, sehingga  semua calon guru baru harus mendaftar melalui jalur PPG Prajabatan. Setiap tahunnya, terdapat banyak guru yang pensiun, sehingga kebutuhan guru akan terus bertambah dan formasi guru akan terus tersedia. Tidak hanya di Indonesia, kekurangan dalam profesi guru juga terjadi di negara lain seperti Australia, di mana generasi muda belum sepenuhnya mengidolakan profesi guru. “Tentu hal ini menjadi fokus Ditjen GTK untuk mengubah pandangan ini dan menjadikan profesi guru sebagai profesi yang membanggakan dan mulia,” jelas Nunuk Suryani.  Sebelum menutup, Dirjen GTK berharap agar para mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) dapat menjadi individu yang berkarakter, menguasai kompetensi esensial, dan memiliki enam dimensi, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; berkebinekaan global; mandiri; bergotong royong; bernalar kritis; dan kreatif.Kegiatan ini turut dihadiri oleh  Rektor Universitas Negeri Medan, Baharuddin; Kepala BBGP Sumatera Utara, Joko Ahmad Julifan; dan Pelaksana tugas (Plt.) Direktur Pendidikan Profesi Guru, Adhika Ganendra.Biro Kerja Sama dan Hubungan MasyarakatSekretariat JenderalKementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

    Selengkapnya
  • Berita

    Hadapi Era Digital, Kemendikbudristek Optimalkan Peran Orang Tua dan Guru dalam Membimbing Anak

    Jakarta, 7 Februari 2024 — Dewasa ini, gawai dan peranti digital semakin masif digunakan anak dan remaja Indonesia untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh, baik untuk jenjang pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi. Namun di saat yang sama, muncul pula berbagai permasalahan akibat meningkatnya intensitas penggunaan gawai tersebut.Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) bekerja sama dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) menyelenggarakan webinar bertajuk “Menjadi Orang Tua Bijak di Era Digital.” Webinar disiarkan secara langsung melalui Youtube Ditjen GTK Kemdikbud RI, Rabu (7/2) Dalam sambutannya, Ketua DWP Kemendikbudristek, Franka Makarim, menuturkan bahwa isu yang diangkat dalam webinar ini sangat relevan dengan kondisi yang dihadapi orang tua maupun pendidik terkait penggunaan teknologi digital di dalam dunia pendidikan.Teknologi digital merupakan salah satu sarana untuk memudahkan pertukaran informasi namun menciptakan ekosistem pendidikan digital yang sehat bagi tumbuh-kembang anak-anak Indonesia masih menjadi tugas besar berbagai pihak terkait. Tak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi dapat mengoptimalkan pertukaran informasi yang berguna untuk menstimulasi keterampilan berpikir dan nalar kritis anak.Di sisi lain, maraknya bahaya siber yang mengancam ketika berselancar di internet, membuat peran orang tua sebagai figur teladan pengguna teknologi digital yang cermat, kritis, dan produktif menjadi sangat penting.Selain itu, anak-anak juga memerlukan bimbingan orang dewasa agar dapat mengeksplorasi fitur yang sesuai dengan rentang usia dan kebutuhan mereka. “Di era ini, pengaruh teknologi digital tidak dapat dihindari sepenuhnya. Tapi sebagai orang tua, kita memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk mengatasi, berdialog, dan memberi pengertian kepada anak-anak dalam pemakaian teknologi,” jelas Franka.Menurutnya, diperlukan kolaborasi yang baik antara orang tua dan pendidik untuk menciptakan lingkungan digital yang aman bagi generasi masa depan. Selain itu, lingkungan keluarga dan sekolah diharapkan mampu menjadi tameng yang mampu melindungi anak dari pengaruh negatif dunia digital. “Dalam tantangan era digital yang semakin besar ini, kita harus bisa saling membantu, saling memperkaya pengetahuan, dan tidak malu bertanya terkait isu ini, sehingga kita dapat menerapkannya baik di lingkungan rumah maupun sekolah,” ucap Franka.Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani, mengungkapkan bahwa webinar ini diselenggarakan karena Ditjen GTK melihat pentingnya peran orang tua dalam memastikan keamanan penggunaan teknologi digital yang semakin masif pada anak-anak. Salah satu platform yang dikembangkan oleh Kemendikbudristek, yaitu Platform Merdeka Mengajar (PMM), merupakan salah satu praktik baik penggunaan teknologi sekaligus strategi implementasi dari Kurikulum Merdeka. Saat ini, sebanyak 2,6 juta guru sudah menggunakan PMM.“Penggunaan PMM merupakan wujud kontribusi pemerintah untuk memastikan pendidik dan peserta didik di seluruh Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses konten pembelajaran yang kontekstual,” pungkas Dirjen Nunuk.Ditjen GTK percaya bahwa perkembangan teknologi digital merupakan satu keniscayaan. Untuk menghadapinya, pemerintah proaktif menyiapkan regulasi agar peserta didik mampu menghadapi kemajuan teknologi dengan rasa percaya diri dan karakter yang unggul.Selain itu, berbagai kebijakan Kemendikbudristek diterbitkan guna mengembangkan kompetensi pendidik agar proses pembelajaran dapat terselenggara sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik di era digital.Dalam konteks pendidikan bagi anak, upaya pemerintah ini tentunya perlu dibarengi dengan peran dan kecakapan literasi orang tua sebagai pendamping anak. Menurut Dirjen Nunuk, literasi bukan hanya kemampuan menggunakan gawai dengan cerdas, namun juga bijak dalam memilah konten yang sesuai.“Kemendikbudristek terus mengakselerasi penggunaan teknologi digital. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua perlu memahami kebijakan tersebut untuk kebaikan masa depan anak-anak kita,” ucapnya.

    Selengkapnya

    Maklumat Pelayanan

    Wujud komitmen kami dalam memberikan pelayanan yang prima kepada pengguna layanan

    Maklumat Keterbukaan Informasi Publik

    Wujud komitmen kami dalam memberikan akses informasi yang mudah dan akurat kepada masyarakat

    Agenda Kegiatan


    Hari Ini

    Rapat Koordinasi Internal Ditjen GTK 2024

    Luring 01 - 03 Mar 2024 Kuta Paradiso Hotel, Bali

    Hari Ini

    Lokakarya Komunitas Belajar 1 Program Sekolah Penggerak Angkatan 2 Kab. Gunung Mas

    Luring 02 Mar 2024 -

    Hari Ini

    Lokakarya Komunitas Belajar 2 Program Sekolah Penggerak Angkatan 3 Kab. Murung Raya

    Luring 02 Mar 2024 Aula Disdikbud Kab. Murung Raya

    Hari Ini

    Lokakarya Komunitas Belajar 2 Program Sekolah Penggerak Angkatan 3 Kab. Kapuas

    Luring 02 Mar 2024 Aula Disdik Kab. Kapuas

    Hari Ini

    Lokakarya Komunitas Belajar 2 Program Sekolah Penggerak Angkatan 3 Kab. Barito Utara

    Luring 02 Mar 2024 Aula SKB Muara Teweh

    Hari Ini

    Lokakarya Komunitas Belajar 2 Program Sekolah Penggerak Angkatan 3 Kab. Katingan

    Luring 02 Mar 2024 -

    Hari Ini

    Lokakarya Komunitas Belajar 2 Program Sekolah Penggerak Angkatan 3 Kab. Sukamara

    Luring 02 Mar 2024 -

    Hari Ini

    Lokakarya Komunitas Belajar 2 Program Sekolah Penggerak Angkatan 3 Kab. Barito Timur

    Luring 02 Mar 2024 SDN Dorong

    Lusa

    Business Matching Belanja Produk Dalam Negeri 2024

    Luring 04 - 07 Mar 2024 The Meru Sanur Bali

    05 Mar

    Lokakarya Komunitas Belajar 2 Program Sekolah Penggerak Angkatan 2 Tahun Kedua Kota Palangka Raya

    Luring 05 Mar 2024 -

    05 Mar

    Lokakarya Komunitas Belajar 2 Program Sekolah Penggerak Angkatan 2 Tahun Kedua Kab. Murung Raya

    Luring 05 Mar 2024 SDN Beriwit 7

    06 Mar

    Lokakarya Komunitas Belajar 2 Program Sekolah Penggerak Angkatan 2 Tahun Kedua Kab. Kapuas

    Luring 06 Mar 2024 Aula SKB Kab. Kapuas

    06 Mar

    Lokakarya Komunitas Belajar 2 Program Sekolah Penggerak Angkatan 2 Tahun Kedua Kab. Barito Utara

    Luring 06 Mar 2024 Aula SKB Muara Teweh

    06 Mar

    Lokakarya Komunitas Belajar 2 Program Sekolah Penggerak Angkatan 2 Tahun Kedua Kab. Kotawaringin Timur

    Luring 06 Mar 2024 BPG Mini Sampit

    09 Mar

    Lokakarya Wawasan Kebangsaan Global Program Sekolah Penggerak Angkatan 1 Tahun Ketiga Kab. Murung Raya

    Luring 09 Mar 2024 SDN Beriwit 7

    09 Mar

    Lokakarya Komunitas Belajar 2 Program Sekolah Penggerak Angkatan 2 Tahun Kedua Kab. Kotawaringin Barat

    Luring 09 Mar 2024 SMAN 2 Pangkalan Bun

    09 Mar

    Lokakarya Wawasan Kebangsaan Global Program Sekolah Penggerak Angkatan 1 Tahun Ketiga Kab. Kapuas

    Luring 09 Mar 2024 Aula Sanggar Kegiatan Belajar Kab. Kapuas

    09 Mar

    Lokakarya Wawasan Kebangsaan Global Program Sekolah Penggerak Angkatan 1 Tahun Ketiga Kab. Barito Utara

    Luring 09 Mar 2024 Aula SKB Muara Teweh

    09 Mar

    Lokakarya Komunitas Belajar 2 Program Sekolah Penggerak Angkatan 2 Tahun Kedua Kab. Gunung Mas

    Luring 09 Mar 2024 SMPN 1 Kurun

    11 Mar

    Lokakarya Wawasan Kebangsaan Global Program Sekolah Penggerak Angkatan 1 Tahun Ketiga Kab. Gunung Mas

    Luring 11 Mar 2024 SMPN 1 Kurun

    20 Mar

    Rapat Koordinasi Program Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM)

    Luring 20 - 22 Mar 2024 Aquarius Boutiqe Hotel, Jl. Imam Bonjol Palangka Raya


    Lihat Semua

    265

    Sekolah Penggerak

    665

    Guru Penggerak

    3957

    IKM Mandiri

    sumber: dari berbagai data

    Berita Terbaru


    Muhammad Fikri Aminuddin, S.Kom.

    Kemendikbudristek Kupas Tuntas Program PPG Prajabatan di Medan

    Medan, 22 Februari 2024 - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) hadir di Universitas Negeri Medan (UNIMED) untuk memberikan penjelasan terkait arah kebijakan profesi guru kepada para mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan. Acara ini sekaligus mengupas tantangan dan kesempatan untuk mengabdi menjadi guru profesional.Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani, dalam sambutannya menyampaikan visi Ditjen GTK adalah menjadikan profesi guru yang bermartabat, mulia, dan membanggakan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan visi tersebut, Ditjen GTK berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan dan status guru secara pasti. “Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui pemenuhan guru lewat seleksi ASN PPPK dan rekrutmen Pendidikan Profesi Guru,” ujarnya pada Senin (21/2) di Medan.Dirjen GTK juga menambahkan bahwa proses rekrutmen guru baru saat ini hanya melalui PPG, sehingga  semua calon guru baru harus mendaftar melalui jalur PPG Prajabatan. Setiap tahunnya, terdapat banyak guru yang pensiun, sehingga kebutuhan guru akan terus bertambah dan formasi guru akan terus tersedia. Tidak hanya di Indonesia, kekurangan dalam profesi guru juga terjadi di negara lain seperti Australia, di mana generasi muda belum sepenuhnya mengidolakan profesi guru. “Tentu hal ini menjadi fokus Ditjen GTK untuk mengubah pandangan ini dan menjadikan profesi guru sebagai profesi yang membanggakan dan mulia,” jelas Nunuk Suryani.  Sebelum menutup, Dirjen GTK berharap agar para mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) dapat menjadi individu yang berkarakter, menguasai kompetensi esensial, dan memiliki enam dimensi, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; berkebinekaan global; mandiri; bergotong royong; bernalar kritis; dan kreatif.Kegiatan ini turut dihadiri oleh  Rektor Universitas Negeri Medan, Baharuddin; Kepala BBGP Sumatera Utara, Joko Ahmad Julifan; dan Pelaksana tugas (Plt.) Direktur Pendidikan Profesi Guru, Adhika Ganendra.Biro Kerja Sama dan Hubungan MasyarakatSekretariat JenderalKementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

    Muhammad Fikri Aminuddin, S.Kom.

    Hadapi Era Digital, Kemendikbudristek Optimalkan Peran Orang Tua dan Guru dalam Membimbing Anak

    Jakarta, 7 Februari 2024 — Dewasa ini, gawai dan peranti digital semakin masif digunakan anak dan remaja Indonesia untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh, baik untuk jenjang pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi. Namun di saat yang sama, muncul pula berbagai permasalahan akibat meningkatnya intensitas penggunaan gawai tersebut.Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) bekerja sama dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) menyelenggarakan webinar bertajuk “Menjadi Orang Tua Bijak di Era Digital.” Webinar disiarkan secara langsung melalui Youtube Ditjen GTK Kemdikbud RI, Rabu (7/2) Dalam sambutannya, Ketua DWP Kemendikbudristek, Franka Makarim, menuturkan bahwa isu yang diangkat dalam webinar ini sangat relevan dengan kondisi yang dihadapi orang tua maupun pendidik terkait penggunaan teknologi digital di dalam dunia pendidikan.Teknologi digital merupakan salah satu sarana untuk memudahkan pertukaran informasi namun menciptakan ekosistem pendidikan digital yang sehat bagi tumbuh-kembang anak-anak Indonesia masih menjadi tugas besar berbagai pihak terkait. Tak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi dapat mengoptimalkan pertukaran informasi yang berguna untuk menstimulasi keterampilan berpikir dan nalar kritis anak.Di sisi lain, maraknya bahaya siber yang mengancam ketika berselancar di internet, membuat peran orang tua sebagai figur teladan pengguna teknologi digital yang cermat, kritis, dan produktif menjadi sangat penting.Selain itu, anak-anak juga memerlukan bimbingan orang dewasa agar dapat mengeksplorasi fitur yang sesuai dengan rentang usia dan kebutuhan mereka. “Di era ini, pengaruh teknologi digital tidak dapat dihindari sepenuhnya. Tapi sebagai orang tua, kita memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk mengatasi, berdialog, dan memberi pengertian kepada anak-anak dalam pemakaian teknologi,” jelas Franka.Menurutnya, diperlukan kolaborasi yang baik antara orang tua dan pendidik untuk menciptakan lingkungan digital yang aman bagi generasi masa depan. Selain itu, lingkungan keluarga dan sekolah diharapkan mampu menjadi tameng yang mampu melindungi anak dari pengaruh negatif dunia digital. “Dalam tantangan era digital yang semakin besar ini, kita harus bisa saling membantu, saling memperkaya pengetahuan, dan tidak malu bertanya terkait isu ini, sehingga kita dapat menerapkannya baik di lingkungan rumah maupun sekolah,” ucap Franka.Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani, mengungkapkan bahwa webinar ini diselenggarakan karena Ditjen GTK melihat pentingnya peran orang tua dalam memastikan keamanan penggunaan teknologi digital yang semakin masif pada anak-anak. Salah satu platform yang dikembangkan oleh Kemendikbudristek, yaitu Platform Merdeka Mengajar (PMM), merupakan salah satu praktik baik penggunaan teknologi sekaligus strategi implementasi dari Kurikulum Merdeka. Saat ini, sebanyak 2,6 juta guru sudah menggunakan PMM.“Penggunaan PMM merupakan wujud kontribusi pemerintah untuk memastikan pendidik dan peserta didik di seluruh Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses konten pembelajaran yang kontekstual,” pungkas Dirjen Nunuk.Ditjen GTK percaya bahwa perkembangan teknologi digital merupakan satu keniscayaan. Untuk menghadapinya, pemerintah proaktif menyiapkan regulasi agar peserta didik mampu menghadapi kemajuan teknologi dengan rasa percaya diri dan karakter yang unggul.Selain itu, berbagai kebijakan Kemendikbudristek diterbitkan guna mengembangkan kompetensi pendidik agar proses pembelajaran dapat terselenggara sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik di era digital.Dalam konteks pendidikan bagi anak, upaya pemerintah ini tentunya perlu dibarengi dengan peran dan kecakapan literasi orang tua sebagai pendamping anak. Menurut Dirjen Nunuk, literasi bukan hanya kemampuan menggunakan gawai dengan cerdas, namun juga bijak dalam memilah konten yang sesuai.“Kemendikbudristek terus mengakselerasi penggunaan teknologi digital. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua perlu memahami kebijakan tersebut untuk kebaikan masa depan anak-anak kita,” ucapnya.

    Muhammad Fikri Aminuddin, S.Kom.

    Peringkat Indonesia pada PISA 2022 Naik 5-6 Posisi Dibanding 2018

    Jakarta, 5 Desember 2023 --- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) merilis hasil studi PISA 2022, pada Selasa (5/12). Hasil PISA 2022 menunjukkan peringkat hasil belajar literasi Indonesia naik 5 sampai 6 posisi dibanding PISA 2018. Peningkatan ini merupakan capaian paling tinggi secara peringkat (persentil) sepanjang sejarah Indonesia mengikuti PISA. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, menyampaikan bahwa peningkatan peringkat ini menunjukkan ketangguhan sistem pendidikan Indonesia dalam mengatasi hilangnya pembelajaran (learning loss) akibat pandemi. “Untuk literasi membaca, peringkat Indonesia di PISA 2022 naik 5 posisi dibanding sebelumnya. Untuk literasi matematika, peringkat Indonesia di PISA 2022 juga naik 5 posisi, sedangkan untuk literasi sains naik 6 posisi,” jelasnya di Jakarta, Selasa (5/12). Peningkatan posisi Indonesia pada PISA 2022 mengindikasikan resiliensi yang baik dalam menghadapi pandemi Covid-19. Skor literasi membaca internasional di PISA 2022 rata-rata turun 18 poin, sedangkan skor Indonesia mengalami penurunan sebesar 12 poin, yang merupakan penurunan dengan kategori rendah dibandingkan negaranegara lain. Direktur untuk Pendidikan dan Keterampilan, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Cooperation and Development, OECD), Andreas Schleicher memuji ketangguhan sistem pendidikan Indonesia, terutama di saat pandemi Covid-19. Beberapa tahun terakhir ini menurutnya merupakan masa yang sangat sulit. Namun, peserta didik Indonesia secara umum berhasil mempertahankan kualitas hasil pembelajaran dalam nilai PISA mereka. “Kami sampaikan selamat kepada Indonesia yang telah berhasil menjaga kualitas hasil pembelajaran. Hasil PISA ini juga menunjukkan bahwa para guru di Indonesia memberi dukungan yang baik para murid selama pandemi,” ucapnya bangga. Indonesia mengikuti PISA sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2000. Keikutsertaan dalam PISA memungkinkan Indonesia memantau kualitas pendidikannya dari waktu ke waktu dan membandingkannya dengan negara lain. PISA diselenggarakan setiap tiga tahun oleh OECD untuk mengukur literasi membaca, matematika, dan sains pada murid berusia 15 tahun. Pada 2022, PISA diikuti oleh 81 negara, yang terdiri dari 37 negara OECD dan 44 negara mitra. Selain menggunakan PISA, sejak 2021 Indonesia telah melaksanakan Asesmen Nasional (AN) untuk memetakan kualitas pendidikan di setiap sekolah dan daerah secara lebih komprehensif. Mengapa Peringkat PISA Indonesia Naik? Mendikbudristek dalam paparannya mengutarakan bahwa relatif kecilnya learning loss mencerminkan ketangguhan para guru yang didukung berbagai program penanganan pandemi dari Kemendikbudristek. Alasan pertama berkaitan dengan akses daring. “Bantuan kuota internet diberikan pada lebih dari 25 juta murid dan 1,7 juta guru agar dapat mengakses materi dan melaksanakan pembelajaran secara daring,” tutur Nadiem. Faktor lain yang mendorong naiknya peringkat Indonesia pada PISA 2022 adalah pelatihan guru yang disediakan oleh Kemendikbudristek melalui Platform Merdeka Mengajar disertai adanya materi pembelajaran secara daring dan hibrida (hybrid). “Berbagai materi pembelajaran dibuat untuk membantu guru melaksanakan pembelajaran di masa pandemi. Ini mencakup materi “Belajar dari Rumah” di TVRI, modul asesmen diagnostik untuk mengukur literasi dan numerasi, modul pembelajaran literasi dan numerasi,” jelasnya. Terobosan yang tak kalah penting adalah pemberlakuan Kurikulum Darurat yang menyederhanakan materi kurikulum agar guru dapat fokus pada pembelajaran yang lebih mendalam, terutama untuk penguatan literasi dan numerasi peserta didik. “Penyederhanaan materi kurikulum efektif memitigasi learning loss. Sekolah yang menggunakan Kurikulum Darurat mengalami 1 bulan learning loss, dibanding 5 bulan di sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013 secara penuh,“ imbuh Nadiem. Penyederhanaan materi ini menjadi salah satu prinsip utama dalam merancang Kurikulum Merdeka. Dengan prinsip ini, Kurikulum Merdeka mengurangi materi wajib di berbagai mata pelajaran agar guru punya waktu lebih untuk menggunakan pembelajaran yang mendalam, interaktif, dan berbasis projek. Kurikulum Merdeka menurut Nadiem, mendukung guru melakukan asesmen diagnostik dan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan tiap murid. Buku-buku teks Kurikulum Merdeka juga memuat lebih banyak aktivitas yang dirancang mengasah daya nalar. “Dengan demikian, pembelajaran dengan Kurikulum Merdeka tidak lagi berorientasi pada penyampaian materi, tapi mengasah kompetensi dan karakter murid,” tegasnya. Andreas Schleicher dari OECD juga menyampaikan optimismenya pada gerakan Merdeka Belajar. “Gerakan Merdeka Belajar yang diinisiasi oleh Kemendikbudristek telah menempatkan Indonesia pada arah yang tepat menuju perbaikan kualitas pendidikan.” Peneliti Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), Rasita Purba, menyampaikan berdasarkan hasil studi INOVASI guru yang menerapkan asesmen diagnostik secara berkala serta menyesuaikan pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik pemulihan hasil belajarnya tiga bulan lebih cepat. “Lebih lanjut, kurikulum yang menekankan pada kompetensi esensial dan memberikan otonomi pada guru untuk menyesuaikan kurikulum dan pembelajarannya, hasil pemulihan pembelajarannya dua kali lebih cepat,” pungkas Rasita. 

    Muhammad Fikri Aminuddin, S.Kom.

    Pembelajaran Yang Berpusat Pada Siswa di Tengah Keterbatasan Sapras

    Ditulis oleh fasilitator Sekolah Penggerak: Dr. Rusnanie, M.Pd.(Tulisan refleksi/renungan setelah selesai kunjungan di SDN 1 Tumbang Tilap, sebagai bentuk Apresiasiku untuk SDN 1 Tumbang Tilap)Dalam kondisi keterbatasan sarana dan prasarana (sapras), mutu pembelajaran masih tetap bisa meningkat dengan beberapa langkah yang dapat dilakukan. Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di tengah keterbatasan sapras:Memanfaatkan teknologi yang ada: Dalam era digital saat ini, teknologi dapat menjadi alat bantu yang efektif dalam proses pembelajaran. Guru dapat memanfaatkan perangkat lunak, aplikasi, atau platform pembelajaran online yang dapat digunakan untuk memberikan materi, tugas, dan komunikasi antara guru dan siswa. Meskipun mungkin tidak ada akses yang lengkap terhadap perangkat teknologi, namun dengan memanfaatkan apa yang telah ada, mutu pembelajaran bisa ditingkatkan.Mengoptimalkan penggunaan sapras yang tersedia: Meskipun keterbatasan, tetaplah mengoptimalkan penggunaan sarana dan prasarana yang ada di lingkungan sekolah. Misalnya, jika ada ruang kelas yang ternyata memiliki projektor yang jarang digunakan, maka bisa dimanfaatkan untuk menampilkan materi visual atau film pendukung dalam pembelajaran.Membuat sistem rotasi: Jika jumlah sapras terbatas di kelas, guru dapat membuat jadwal atau sistem rotasi penggunaan sapras tersebut. Hal ini bertujuan agar semua siswa dapat merasakan manfaat dan pengalaman menggunakan sapras yang ada.Mengoptimalkan interaksi dan keterlibatan siswa: Meskipun sarana pembelajaran terbatas, guru tetap bisa meningkatkan mutu pembelajaran dengan memfokuskan pada interaksi dan keterlibatan siswa. Guru dapat menggunakan metode-metode aktif dan pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung, seperti diskusi kelompok, permainan peran, dan simulasi. Dengan cara ini, proses pembelajaran tetap dapat berjalan efektif dan mutu pembelajaran dapat ditingkatkan.Melakukan kolaborasi antar guru: Guru-guru dapat saling berbagi pengalaman dan ide dalam mengatasi keterbatasan sapras. Dengan melakukan kolaborasi, guru dapat saling memberikan saran, tips, dan trik dalam memaksimalkan penggunaan sapras yang ada di sekolah. Hal ini akan membantu meningkatkan mutu pembelajaran.Melibatkan orang tua siswa: Orang tua juga bisa dilibatkan dalam meningkatkan mutu pembelajaran di tengah keterbatasan sapras. Guru dapat mengajak orang tua untuk memberikan masukan atau berbagi pengalaman mereka sendiri dalam memaksimalkan pembelajaran di rumah. Orang tua juga dapat membantu guru dalam mendapatkan perlengkapan tambahan yang dibutuhkan untuk mendukung pembelajaran.Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, mutu pembelajaran masih bisa meningkat meskipun dalam kondisi keterbatasan sapras. Semua pihak terkait, baik guru, siswa, maupun orang tua, perlu bekerja sama untuk menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan bermutu.Apa yang saya tuliskan di atas hampir 90 persen sudah dilakukan oleh SDN 1 Tumbang Tilap.

    Muhammad Fikri Aminuddin, S.Kom.

    Perkuat Implementasi Kurikulum Merdeka, BGP Kalteng Adakan Rapat Koordinasi dengan Dinas Pendidikan

    Balai Guru Penggerak Kalimantan Tengah telah melaksanakan Rapat Koordinasi Teknis Program Implementasi Kurikulum Merdeka. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15 - 17 Mei 2023 di Aquarius Boutique Hotel, Palangka Raya.Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Balai Guru Penggerak Kalimantan Tengah I Ketut Sukajaya, S.Pd., M.Pd. Dihadiri oleh Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Kalimantan Tengah, Kepala Bidang GTK Dinas Provinsi Kalimantan Tengah, Perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, dan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah.Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk membahas terkait dengan Kebijakannya Kemendikbudristek terkait dengan IKM Mandiri, Kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah terkait IKM Mandiri, Orientasi Program IKM, Sosialiasi Narasumber Berbagi Praktik Baik, Sosialisasi terkait Komunitas Belajar, Sosialisasi terkait dengan Pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar, serta diharapkan hasil berupa Paparan dari Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota terkait dengan dukungan terhadap IKM Mandiri di wilayah masing-masing. 

    Kritik & Saran


    Kontak Kami